perlahan aku mulai menemui kebahagiaanku setelah sekian lama larut dalam emosi hati. aku ingin lepas dan pergi. jauh dari keramaian. aku ingin sendiri.
aku ingin tak ada yang mengusik.
aku ingin menjauhkan diri.
aku ingin terus begini.
aku ingin belajar lagi.
aku ingin arghhhhhh
aku terlalu banyak ingin.
sampai lupa.
mana keinginan yang benar kubutuhkan.
tak ada yang ku prioritaskan selain ingin ini itu.
tanpa seban dan alasan kuat.
aku lemah.
aku takut.
aku tak percaya diri.
aku terpojokkan oleh pikiranku sendiri.
aku tak bersyukur atas hidup ini.
lagi dan lagi.
aku seperti terjerumus dalam mimpi.
ya, mimpi buruk yang membuat ku terus berhalusinasi.
aku akan bahagia pada akhirnya.
dengan mimpi buruk itu.
dengan keinginan yang baik itu.
ya, itu ujarku dalam mimpi.
ya, itu tanggapku dalam hati.
ya, itu hanya sebuah khayalanku sendiri.
mana ada bahagia tanpa menderita?
mana ada bisa tanpa berusaha?
siapa aku?
tak bisa seperti ini terus!
aku cukup bersabar akan diri ini.
cukup.
aku menyerah.
bawa aku ke arah jalanmu.
aku akan turuti mau mu.
namun setelah itu.
tuntun aku kembali ke jalanku.
aku butuh pulang.
aku tersesat.
hai.. yang disana?
bisakah kau seperti itu?
aku rapuh dan tak berdaya.
ku mohon jangan abaikan aku.
ku mohon jangan tinggalkan aku.
kemarilah.
sahut tanganku.
aku membutuhkanmu.
moment:
ketika raga ingin bersatu denga jiwa. disitu ada celah yang merusaknya. sebut saja keinginan tanpa ujungnya. tak ada batas sampai pada akhirnya menyerah dan pergi meninggalkan diri sendiri. omong kosong yang terus menyakiti kini seperti tak ada habisnya menyinari.
Bekasi, 29 Juni 2020.