melebur egomu dan egoku.
sempat tegang karna permasalahan.
apa kita masih bertahan?
jikalau aku terus digaris terdepan.
sedangkan kamu berleha dibelakang.
bukankan pondasi kita percaya?
atap kita saling melindungi.
lantai kita saling menerima.
dan bangunan kita yang seharusnya diperbaiki.
mudah rapuh dan kosong tak berpenghuni.
kamu maunya apa?
mengapa kau bangun dusta diantara eloknya percaya?
lalu untuk apa ku berdiri kokoh ditepi kehancuran?
ah. sudah berulang kali ternyata.
aku sering pula memupuk agar selalu ku panen bunga.
namun kau merusak sampai rumput yang kau juput.
lusa kau menunduk berkasih manis didepanku.
esok kau patahkan sampai duri pun tumbuh dipekarangan.
aku tak ingin menyiakan bangunan yang dikokohkan.
akan ada penghuni lain yang akan merawat.
maaf, kamu terusir dari sini.
bangunan ini tak sekokoh yang kau kira.
sebelum ambruk kan kupastikan ada yang menjaga.
jelas itu bukan kamu.
karna kau hanya bertamu dan merusak.
bukan menjadi atap tuk menetap.
moment:
aku hanya bisa mengira bukan menerka. ah sama saja. bisaku melihat tak dapat memandang. itu saja cukup membuktikan tuk cepat selesai.
Bekasi, 4 Mei 2020.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar